Segala puji bagi Alloh SWT yang telah menganugerahi nikmat terbesar kepada kita yaitu nikmat Islam. Shalawat dan salam kita limpah curahkan untuk baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam yang telah menjadi tauladan spiritual kita.

Kehidupan kita di dunia ini pada hakikatnya adalah laksana perjalanan seorang “musafir”. “Bagaikan pengendara yang berteduh di bawah pohon, setelah itu pergi lagi dan meninggalkan pohon itu”. Dalam perjalanan itu ada pendukung kebaikan yang mengajak manusia kepada kebenaran dan mencegah mereka dari kemungkaran dan juga pendukung kebatilan yang mesti diseru dan diarahkan.

Sebagiannya menerima seruan kebaikan. Mereka lah yang berpotensi untuk bisa jadi orang-orang pilihan, yang mampu bersikap zuhud dan berkepribadian tahun di tengah dominasi syahwat dan materialis. Orang-orang ini layak mendapatkan julukan manusia unggul dan terpercaya yang mampu memikul amanah berat dalam kafilah dakwah. Menjadi orang-orang sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW “manusia itu bagai seratus ekor unta, hampir saja anda tidak mendapatkan diantara nya (yang layak) menjadi tunggangan (pemukul beban)” (muttafaq alaihi)

Orang-orang inilah yang disebut sebagai para musafir dakwah yang sedang melakukan perjalanan menuju Alloh SWT untuk mendapatkan syurganya. Pegangan hidup mereka adalah kitab dan sunnah, surat jalannya iman dan amal dan visanya adalah keikhlasan kebenaran beramal. Bekal perjalannya adalah taqwa, adapun teman perjalanan nya adalah “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual-beli dari mengingat Alloh, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (QS an-Nur : 37).

Perjalanan mereka mengendarai kereta dakwah merupakan simbol bagi jama’ah para aktivis dakwah. Di dalam nya terdiri dari manusia-manusia unggul, safar mereka ke arah yang tetap dengan langkah yang mantap, tidak dapat dihalangi oleh berbagai penghalang dan tidak menoleh ke belakang, serta tidak ada yang membelot kecuali yang berpenyakit.

Mengutip ulang kata pengantar penerbit dari terjemahan buku “Musafir fii qithorid da’wah” dengan sedikit penyesuaian, buku yang sangat baik untuk dibaca-baca ulang. Dalam bahasa Indonesia judulnya jadi “Bersama Kereta Dakwah, Sukses Berdakwah di era Keterbukaan”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here